Selasa, 25 Maret 2014
Senin, 24 Maret 2014
Jangan Ada Lagi Ngebon
By Rosadi Jamani
Pontianak.
Lain dulu lain sekarang. Lembaga Pembinaan Tilawatil Quran (LPTQ) di bawah
kepemimpinan M Zeet Hamdy Assovie menegaskan, jangan ada lagi ngebon. Gunakan
dan bina qori dan qoriah asli Kalbar saja.
“Saya
tegaskan, jangan ada lagi istilah ngebon. Nanti malah rugi dua kali. Apa yang
kita miliki itulah yang diberdayakan dan dibina,” tegas M Zeet dalam rapat
persiapan menjelang MTQ Bengkayang di Aula Kanwil Kemenag Kalbar, Senin
(24/3/2014).
Sikap
tegas M Zeet yang juga Sekda Kalbar ini lebih disebabkan adanya kebiasaan pakai
jalan pintas (ngebon). Ada sejumlah LPTQ tingkat kabupaten/kota mendatangkan
qori-qoriah atau hafiz-hafizah dari provinsi lain. Kebiasaan tersebut lebih
disebabkan minimnya pembinaan. Sehingga, potensi daerah menjadi tenggelam.
“Di
bawah kepemimpinan saya, pembinaan menjadi nomor satu. Makanya, saya gagas
Alquran Center. Di tempat inilah pembinaan qori-qoriah, hafiz-hafizah secara
intensif. Kita datangkan pelatih nasional,” tekad M Zeet yang juga Ketua PW NU
Kalbar ini.
Dia
berharap, instruksinya ini cepat direspon oleh seluruh LPTQ kabupaten/kota
se-Kalbar. Mantan Sekda Singkawang ini tidak mau persoalan ngebon menjadi
bumerang bagi kontingen Kalbar di MTQ Nasional. Lebih baik memberdayakan apa
yang dimiliki Kalbar, ketimbang memberdayakan provinsi lain.
“Saya
tegaskan juga untuk seluruh hakim, jangan ada istilah tak nyaman atau tak enak
dengan tuan rumah. Nilai sejujur-jujur dalam lomba nanti. Tak ada istilah tuan
rumah harus juara umum. Buang semua perasaan tak enak. Yang perlu ditonjolkan
adalah objektivitas agar lahir qori-qoriah, hafiz-hafizah yang benar-benar
terbaik,” instruksi M Zeet.
Selain
itu, orang nomor satu di birokrasi Pemprov Kalbar ini mendesak untuk cepat
dicarikan hakim nasional. Gunakan seluruh kekuatan agar bisa mendapat hakim
agar bisa membina para ahli tilawah Kalbar. Soal biaya jangan dipikirkan.
“Usahakan
secepatnya. Kita bergerak cepat. Semua itu tentunya untuk para tilawah kita,”
desaknya.
Satu
hal lagi yang menjadi fokus utamanya mengenai Alquran Center. Dia berharap
pihak Kanwil Kemenag Kalbar segera menyiapkan tempat di Asrama Haji. Sebab,
usai MTQ Bengkayang 27 April sampa 2 Mei 2014, LPTQ Kalbar segera melakukan
pembinaan di Alquran Center.
“Rencana
kita, sebulan penuh seluruh qori-qoriah dan hafiz-hafizah dibina di Alquran
Center. Mereka akan dibina oleh hakim nasional dan lokal Kalbar sendiri.
Harapan saya hanya semata-mata ada perbaikan peringkat Kalbar di tingkat
nasional, itu saja,” papar tokoh penting di balik berdirinya Universitas
Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar ini.
Usai
rapat, para pengurus LPTQ langsung meninjau Asrama Haji. Mereka ingin melihat
posisi Alquran Center yang masih menunggu kebijakan Kepala Kemenag Kalbar itu.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa tempat pembinaan tidak ada lagi
persoalan.
“Kita
sudah rencanakan, di Alquran Center itulah kita akan melakukan pembinaan secara
serius. Tentunya kita bekerja sama dengan LPTQ kabupaten/kota. Kita tanggung
seluruh biaya pembinaan, sementara pihak LPTQ kabupaten/kota hanya menanggung
biaya transport,” paparnya.
Persoalan
baju seragam juga menjadi sorotan M Zeet. Untuk membuat baju seragam butuh
biaya besar. Kalau dana memungkinkan tidak ada persoalan. “Maksudnya saya,
jangan dana banyak dihabiskan hanya untuk
sesuatu yang tak begitu penting. Bagi saya yang sangat penting adalah
pembinaan. Bagaimana dana sepenuhnya tercurah untuk pembinaan itu,” ujarnya.
“Tidak
ada aturan kontingen pakai seragam. Boleh dong kalau tidak pakai jaz saat
devile nanti,” canda M Zeet.
Selain
rapat tersebut, LPTQ Kalbar juga mempersiapkan diri untuk mendengarkan expose
panitia lokal MTQ Bengkayang. Expose dilakukan di Kantor Gubernur Kalbar,
Selasa (25/3/2014). Bupati Bengkayang yang akan menyampaikannya langsung.
Seluruh pengurus LPTQ Kalbar diharapkan menghadiri acara tersebut. (ros)
Minggu, 23 Februari 2014
Tekad Perbaikan Peringkat
Oleh
Rosadi Jamani
Selalu
terpuruk. Itulah kesan yang disematkan pada kontingen Kalbar ketika mengikuti
MTQ Nasional. Memang demikian faktanya. Apakah harus dibiarkan?
Dulu,
ada nama Hj Nurbaini Ramli, Hj Nursiah Ismail, Hj Rahmawati, merupakan qoriah
terbaik Kalbar yang berjaya di tingkat nasional dan internasional. Dulu juga,
Kalbar sangat diperhitungkan. Sayang, itu hanya sejarah dan sebuah cerita.
Belakangan, pamor Kalbar di tingkat MTQ Nasional sangat miris. Tiga MTQ sebelumnya
di Banten, Bengkulu, dan Maluku, Negeri Khatulistiwa berada di papan bawah.
Sangat mengecewakan. Tidak ada lagi juara. Kalau sudah tidak ada juara,
penyebab utamanya pasti minim pembinaan. Itu memang hukum alamnya.
Saat
ini Lembaga Pembinaan Tilawatil Quran (LPTQ) Kalbar baru saja ganti pengurus.
Pengurus lama dikomandani H Syakirman. Pengurus baru sekarang adalah M Zeet
Hamdy Assovie. Beliau merupakan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Kalbar.
Seluruh pengurusnya wajah baru. Karena baru, semangat dan tekadnya juga baru.
Penuh ambisi, mimpi, dan dedikasi.
“Harus
ada perbaikan peringkat,” tekad Ketua LPTQ Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie saat
rapat perdana pengurus. Tekad tersebut dinilai tidak berlebihan. Sebab, Kalbar
pernah melahirkan juara nasional. Potensi besar. Cuma bagaimana mempersiapkan
diri sebaik mungkin sebelum berlomba di tingkat nasional.
Konsep
sederhana sang komandan baru itu adalah terlebih dahulu mendirikan Alquran
Center (AC). Impiannya, di AC itulah nanti qori, qariah, hafiz, hafizah, juara
syarhil, juara khat, juara fahmil dibina intensif. Tak cukup pelatih lokal, akan mendatangkan
pelatih nasional. Seluruh fasilitas akan disiapkan. Mereka akan digembleng
dalam waktu lama. LPTQ kabupaten/kota diharapkan ikut membantu.
Ide
cemerlang tersebut mendapat sambutan luar biasa dari pengurus lain. Memang ada
harus demikian untuk menjadi juara. Ada tempat khusus untuk pembinaan. “Kalau
kita perhatikan, provinsi yang banyak meraih juara, karena mereka intensif
melakukan pembinaan. Bukan satu dua bulan menjelang MTQ baru ada pembinaan,
melainkan bertahun-tahun. Kalau mereka juara itu sangat wajar,” kata Mus
Mulyadi salah satu pengurus LPTQ Kalbar.
Untuk
melahirkan seorang juara nasional, tidak bisa instant. Selalu ada proses yang
memakan waktu panjang. Kalau ingin memperbaiki peringkat, dari nomor bawah ke
papan tengah, caranya hanya satu. Lakukan pembinaan secara intensif,
sistematis, dan terprogram. Kemudian, didukung fasilitas standar dengan pelatih
andal. Namun, itu semua tentulah harus didukung dana.
“Soal
biaya tidak ada masalah,” tegas M. Zeet. Nah, kalau “Pakwe” sudah ngomong
demikian, dana yang selalu dikeluhkan, bukan lagi persoalan. Saya percaya akan
hal itu. Sebagai orang nomor satu di jajaran birokrasi Pemprov Kalbar, tentu M
Zeet memiliki kemampuan untuk menyiapkan dana. Kalau dana tidak ada masalah,
sekarang tinggal action.
M
Zeet yang juga Ketua PW Nahdlatul Ulama (NU) Kalbar itu ditanya soal mepetnya
waktu persiapan menghadapi MTQ Batam. Kalau menunggu dibangun AC, jelas tidak
memungkinkan. Hanya ada dua pilihan, para juara MTQ di Bengkayang 27 April
nanti, langsung dibina. Pilihan pertama, para juara MTQ Kalbar itu dititipkan
pembinaannya di Jawa. Atau, pilihan kedua, pelatih nasional yang didatangkan. M
Zeet memilih mendatangkan pelatih nasional. Lokasi pembinaan, kemungkinan besar
Asrama Haji. Mereka dibina dan dilatih siang malam menjelang berangkat ke
Batam. Apakah itu maksimal? Jelas tidak maksimal. Namun, itulah upaya maksimal
yang dilakukan nanti oleh LPTQ Kalbar yang baru dibentuk.
“Kira-kira
demikian upaya yang akan kita lakukan. Pastilah tidak maksimal dengan sisa
waktu sedikit. Kecuali untuk MTQ berikutnya, kita akan lakukan secara maksimal,
terprogram, sistematis. Walau demikian, kita bertekad untuk memperbaiki peringkat
di Batam nanti,” tekad mantan Sekda Singkawang ini.
Untuk
sementara, tekad pengurus LPTQ Kalbar yang di-SK-an oleh Gubernur Drs Cornelis
MH sangat tinggi. Walau belum dilantik, mereka sudah dihadapkan dua agenda
besar, yakni menyukseskan MTQ Bengkayang dan persiapan MTQ Batam. Di tengah
keterbatasan pengalaman maupun fasilitas, LPTQ Kalbar bertekad untuk memberikan
yang terbaik. Bagaimanapun, ajang MTQ bisa menjadi ajang untuk mempromosikan
nama Kalbar di tingkat nasional maupun internasional. Sekarang, tekad sudah
diucapkan, tinggal menunggu realisasinya. Semoga impian untuk memperbaiki
peringkat bisa diwujudkan.
Sekilas Sejarah MTQ
Musabaqah Tilawatil Quran
MTQ telah
ada di Indonesia sejak tahun 1940-an sejak berdirinya Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia.
Sejak tahun
1968, saat menteri agama dijabat K.H. Muhammad Dahlan (salah seorang ketua Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama) MTQ dilembagakan secara nasional. MTQ pertama diselenggarakan
di Makassar pada bulan Ramadan tahun 1968. Kala itu hanya melombagakan tilawah
dewasa saja dan melahirkan Qari Ahmad Syahid dari jawa Barat dan Muhammadong
dari Sulawesi Selatan. MTQ kedua diselenggarakan di Banjarmasin tahun 1969.
Tahun 1970 MTQ ketiga diselenggarakan di Jakarta dengan acara yang sangat
meriah.
MTQ kini
sudah berlangsung 23 kali. Banten akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke 24.
Kini, tidfak hanya lagu yang dilombagakan, juga termasuk cerdfas cermat,
pidato, kaligrafi, dan lain sebagainya.
MTQ juga
diselenggarakan antar dan di dalam instansi tertentu. MTQ Wartawan
diselenggarakan secara rutin tiga tahun sekali dan akan memasuki MTQ kelima
tahun 2008 nanti. MTQ Pertamina terhenti sejak tahun 1980. MTQ Telkom dengan
nama MAN (Musabawah Al-Quran Nasional) tahun 2008 ini akan dilangsungkan di
banda Aceh seagai MAN ke delapan.
Lagu-lagu
tilawah antara lain Bayati, Syika, Nahwand, Rost, Jiharka, dan lain sebagainya.
Qari-qari
terkenal asal Indonesia antara lain: K.H. Aziz Muslim, K.H. Bashori Alwi, Hj.
Rofiqoh darto Wahab, Hj. Nursiah Ismail, Hj. Aminah, Hj. Maria Ulfah, Muammar ZA, Muhammadong, Muhammad
Ali, H. Wan Muhammad Ridwan Al-Jufrie' dan lain sebagainya.
Daftar MTQ
Berikut
daftar Qari (Pembaca Al Quran Pria Terbaik) dan Qariah (Pembaca Al Quran Wanita
Terbaik) dari MTQ tingkat Nasional [1]
|
No
|
Tahun
|
Tempat
|
Qari
|
Qariah
|
Juara Umum
|
|
1
|
1968
|
Makassar
|
H. Abdul
Syahdi (Jawa Barat)
|
Mawiyah
Rafe'l (Sumatera Selatan)
|
-
|
|
2
|
1969
|
Bandung
|
Abdul
Hakim Muslim (Jawa Tengah)
|
-
|
|
|
3
|
1970
|
Banjarmasin
|
Salafuddin
(Jawa Tengah)
|
Wahdah
Muhsin
|
-
|
|
4
|
1971
|
Medan
|
Hasan
Basri (Sumatera Utara)
|
Darmawati
Tahir (Sulawesi Selatan)
|
-
|
|
5
|
1972
|
Jakarta
|
M. Harun
S. Roni (Sumatera Selatan)
|
Wahdah
Arsyad (Kalimantan Selatan)
|
Jakarta
|
|
6
|
1973
|
Mataram
|
H. Rahmat
Lubis (Sumatera Utara)
|
Nurbaini
Ramli (Kalimantan Barat)
|
Sumatera
Utara
|
|
7
|
1974
|
Surabaya
|
H.
Shalahuddin Gazali (Jawa Timur)
|
Nursiah
Ismail (Kalimantan Barat)
|
Jawa Timur
|
|
8
|
1975
|
Palembang
|
Nasrullah
Djamaludin (Jakarta)
|
H.
Darmawati (Jakarta)
|
Sumatera
Selatan
|
|
9
|
1976
|
Samarinda
|
M. Ali
Yusni (Kalimantan Timur)
|
H. Nursiah
Ismail (Kalimantan Barat)
|
Kalimantan
Timur
|
|
10
|
1977
|
Manado
|
H.
Hasanuddin Hasyim (Aceh)
|
Qusthaniah
(Kalimantan Timur)
|
Jawa Barat
|
|
11
|
1979
|
Semarang
|
Nanang
Qosim ZA (Sulawesi Utara)
|
Alfisyah
Arsyad (Kalimantan Selatan)
|
Jawa Barat
|
|
12
|
1981
|
Banda Aceh
|
H. Muamar
ZA (Jakarta)
|
Sarini
Abdullah (Jakarta)
|
Aceh
|
|
13
|
1983
|
Padang
|
Ramli
Ahmad (Lampung)
|
Siti
Aminah HN Ismail (Jawa Barat)
|
Jakarta
|
|
14
|
1985
|
Pontianak
|
Drs. H.
Nasir Cidung (NTB)
|
Fatmawati
Kasim (Sulteng)
|
Jawa Timur
|
|
15
|
1988
|
Bandar
Lampung
|
Syarifuddin
M, BA (Sumatera Selatan)
|
Dahlia
Achmad (Sulteng)
|
Lampung
|
|
16
|
1991
|
Yogyakarta
|
Muaraif
Abbas, S.H. (Jakarta)
|
Fadilah
Umar (Lampung)
|
Jawa Barat
|
|
17
|
1994
|
Pekanbaru
|
M. Syahabuddin
(Sumatera Selatan)
|
Musniati
Nur Aini AS (Riau)
|
Jawa Barat
|
|
18
|
1997
|
Jambi
|
Abdul Raud
(Sumatera Selatan)
|
Wildayati
(Sumatera Barat)
|
Jakarta
|
|
19
|
2000
|
Palu
|
|
|
Jawa Barat
|
|
20
|
2003
|
Palangkaraya
|
|
|
Jawa Barat
|
|
21
|
2006
|
Kendari
|
|
|
DKI
Jakarta
|
|
22
|
2008
|
Banten
|
|
|
DKI
Jakarta
|
|
23
|
2010
|
Bengkulu
|
|
|
Jawa Barat
|
|
24
|
2012
|
Ambon
|
|
|
DKI
Jakarta
|
|
25
|
2014
|
Batam -
Kepri
|
|
|
* Sumber: www.wikipedia.com
Langganan:
Postingan (Atom)




















